Description
Di antara belasan dalil yang menjelaskan akar kontroversi KH Abdurrahman Wahid adalah bahwa ia dianggap paling sering disalahpahami. Lalu berkembanglah teori tentang bagaimana cara yang tepat memahami Gus Dur. Ada beberapa buku yang terbit sebagai penjabar asumsi itu. The Jakarta Post, dua tahun lalu, menerbitkan buku Understanding Gus Dur. Mantan ajudan Gus Dur, Al-Zastrouw Ngatawi, tiga tahun silam, meluncurkan buku Gus Dur Siapa sih Sampean. Yang menarik adalah subjudul buku itu: Tafsir Teoritik atas Tindakan dan Pernyataan Gus Dur. Greg Barton, dosen mata kuliah agama dan kajian Asia di Universitas Deakin, Australia, juga beranjak dari dalil itu ketika menulis biografi Gus Dur ini. Barton berpendapat, tidak hanya Gus Dur, melainkan juga kalangan Islam tradisional — sebagai basis konstituennya– sering disalahpahami, termasuk oleh publik Indonesia sendiri. Maka upayanya untuk memahami Gus Dur secara empati dari sudut pandang tokoh yang dikaji diyakini punya nilai signifikan. Apalagi, Barton melakukan observasi dari tangan pertama. Ketika kuliah di Universitas Monash, Melbourne, Barton beberapa kali menulis artikel tentang dinamika Islam di Indonesia. Puncaknya, pada 1995, ia menyelesaikan disertasi berjudul The Emergence of Neo-Modernism, yang mengupas pemikiran Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid. Jadi, Gus Dur bukanlah kenalan baru. Sejak memulai penelitian biografi ini pada 1997, Barton mendapat keistimewaan akses langsung pada Gus Dur.




Recent Comments